Dekatnya Presiden Jokowi dengan Papua

Presiden Joko Widodo menggendong dua balita di Kampung Kayeh, Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis (12/4/2018). Balita berkaus kuning juga bernama Jokowi/ Foto: biro pers setkab.

Oleh: Cornel Montero

Reliji.Com— Jokowi adalah Presiden Indonesia yang paling sering menginjakkan kaki di Papua. Presiden Jokowi tercatat sudah delapan kali mengunjungi tanah Papua, sejak kunjungan perdana pada 27-29 Desember 2014 hingga kunjungan terbaru pada 11-13 April 2018.

Presiden Jokowi begitu dekat dengan Papua; dekat dengan kehidupan rakyat Papua, menyapa hangat mama-mama Papua yang rela berjemur di pasar mencari nafkah, memeluk hangat anak-anak-anak Papua saat bencana campak dan gizi buruk melanda Suku Asmat, dekat dengan denyut pembangunan di tanah Papua. Jokowi sungguh menaruh hati kepada Papua, hadir sebagai Bapak Bangsa yang ingin selalu dekat dengan rakyatnya, tindakan nyata melampaui janji dan retorika. Jokowi begitu istimewa di mata dan hati rakyat Papua, tak terbantah.

Di tengah padatnya agenda kerja, Presiden yang selalu tampil apa adanya ini selalu hadir memberi solusi terhadap kebutuhan rakyat; menyerahkan ribuan sertifikat tanah, memberikan Kartu Indonesia Sehat hingga Kartu Indonesia Pintar, hingga titik pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang menjadi prioritas di Papua: jembatan, jalan trans-Papua, pasar bagi mama-mama Papua, serta infrastruktur lainnya yang belum pernah dirasakan oleh masyarakat Papua. Program Nawacita Jokowi dan komitmen Pemerintah yang mengangkat taraf hidup dan pembangunan di Papua, patut diapresiasi.

Pembangunan; membuka isolasi

Bagi Presiden ketujuh RI ini, pembangunan di Papua dan daerah-daerah di Indonesia bagian timur, akan membuka ruang isolasi dan titik kesenjangan (pembangunan). Pembangunan infrastruktur di Papua, melalui trans-Papua, merupakan salah satu janji Jokowi ketika masih menjadi Calon Presiden periode 2014-2019. Janji kampanyenya memang tidak muluk karena pembangunan trans-Papua bukanlah sebuah rencana baru karena proyek ini sudah dicanangkan sejak masa Orde Baru.

“Jembatan Holtekamp ini menghubungkan Kota Jayapura, terutama dengan pos lintas batas di Skouw. Saya kira ini menjadi jembatan yang paling panjang yang kita harapkan akan menumbuhkan titik perekonomian baru di Jayapura dan sekitarnya karena dapat memperpendek jarak dari kota Jayapura ke Skouw yang biasanya ditempuh 2,5 jam, sekarang bisa ditempuh dengan 1 jam,” kata Presiden seperti dikutip setkab.go.id, Kamis (12/4/2018).

Presiden Jokowi dan ibu negara Iriana meninjau jembatan Holtecamp di Jayapura

Adapun Jembatan Holtekamp yang dibangun sepanjang 732 meter ini berada di atas Teluk Youtefa dan menghubungkan Kota Jayapura dengan Distrik Muara Tami di Provinsi Papua. Saat ini, progress pembangunan jembatan sudah mencapai 80% dan diagendakan akan rampung pada September 2018 mendatang.

“Pembangunan Jembatan Holtekamp ini, kalau kita semua ingat mulai dibanguan sejak Mei 2015 dan kita harapkan nanti akhir tahun 2018 sudah selesai, dengan tambahan bentangan kanan-kiri jalan 7.800 meter. Saya kira ini menjadi jembatan yang paling panjang,” ujar Presiden.

Selain meninjau pembangunan infrastruktur di Papua, agenda Jokowi juga mengunjungi pasar tradisional yang bernama ‘Pasar Mama-mama Papua’ di Kota Jayapura. Kunjungan Jokowi ke pasar tradisional memang selalu menjadi agenda utama ketika menjabat menjadi Presiden sejak 2014. Hal itu tidak terlepas dari pernyataan Presiden Jokowi bahwa denyut nadi perekonomian daerah salah satunya dapat dilihat dari aktivitas di pasar-pasar rakyat. Sayangnya, Presiden Jokowi menilai masih banyaknya pasar rakyat atau tradisional yang tampak tidak tertata dan terjaga kebersihan serta kualitas bangunannya.

“Tidak heran jika masyarakat atau pelanggan lebih senang datang ke retail modern, ke supermarket, ke pasar modern, ke mall-mall,” nilai Jokowi yang didampingi Ibu Negara, Iriana yang sempat berbelanja sayuran dan buah-buahan antara lain jambu air,tomat, cabai, keladi, ubi jalar dan madu.
Kunjungan Jokowi ke Pasar Mama-mama di Papua ini merupakan kedua kalinya sejak tinjauan perdananya yakni pada 10 Mei 2017. Pembangunan pasar bagi Mama-Mama Papua merupakan bagian dari Program Nawacita Jokowi dan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia khususnya para pedagang tradisional. Groundbreaking pasar ini dilakukan Jokowi pada 30 April 2016. Pasar yang berdiri di atas lahan seluas 2.400 meter persegi ini didesain menjadi pasar semi modern dengan empat lantai ditambah satu lantai mezzanine yang antara lain terdiri dari pasar basah, pasar kering, pasar cinderamata, ruang pelatihan, dan lain-lain.

Presiden Jokowi menilai pembangunan ruas jalan trans-Papua yang telah tersambung, terbukti memberikan manfaat yang nyata kepada masyarakat. Salah satunya ruas Wamena-Nduga yang saat ini sudah tersambung dapat memangkas waktu perjalanan dari sebelumnya ditempuh dengan empat hari empat malam, kini bisa ditempuh hanya dalam hitungan jam.

“Dulu 260 km ditempuh dengan berjalan kaki selama empat hari empat malam dari Wamena ke Nduga, sekarang ditempuh 5-6 jam. Bentuk pembangunan seperti ini harus merata dilakukan di seluruh Indonesia demi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Contoh jalan lainnya yang sudah dikerjakan pemerintah adalah pembangunan jalan di wilayah perbatasan Kalimantan. Ini contoh-contoh, tidak hanya di Papua yang kita kerjakan, di Kalimantan Barat juga menuju ke Aruk, di Entikong. Kita perlu jalan-jalan seperti ini, inilah yang kita kerjakan,” katanya saat audiensi dengan sopir truk di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Adapun anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan jalan di Papua pun tidak sedikit. Pada tahun 2017, total dana APBN Perubahan dari pagu Kementerian PUPR yang dikucurkan untuk membangun infrastruktur di Papua dan Papua Barat mencapai Rp 7,61 triliun. Dari dana tersebut, sebesar Rp 5,2 triliun dialokasikan untuk jalan dan jembatan dari Ditjen Bina Marga.

Pembangunan jalan Trans Papua dan perbatasan lainnya pun diyakini menjadi cara dalam mendorong lancarnya distribusi barang menurunkan biaya logistik sehingga harga-harga barang juga bisa ikut turun. Harga barang yang turun diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat sesuai dengan tujuan Nawa Cita yang ingin membangun wilayah-wilayah terluar, terdepan dan terpencil Indonesia.
Presiden Jokowi mengharapkan agar harga barang-barang di Papua bisa semakin murah seiring dengan makin lancarnya arus logistik barang. Dengan tersedianya akses infrastruktur jalan yang semakin baik diharapkan menjadi sumber pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia. Saat berkunjung di Agats, Jokowi juga melakukan blusukan di tiga daerah yakni di gedung Serba Guna Widya Mandala di pusat kota, meninjau proyek pembangunan instalasi penampungan air bersih dan pembangunan rumah di Kampung Kayeh. Hal yang sama juga dilakukan saat meninjai kondisi jalan dari Agats ke Nduga.

Dalam suatu pertemuan dengan Warga Negara Indonesia (WNI) di Amopura Gathering, Museum Te Papa,Selandia Baru, Senin (19/3/2018) Presiden ditanya mengapa sering ke Papua.

“Bapak Presiden, apa yang menjadi motivasi Bapak sehingga begitu sering datang ke Papua?” demikian bunyi pertanyaan yang dilontarkan Fransiscus Orlando, salah satu WNI asal Papua yang tingal di Selandia Baru.

Presiden yang hadir bersama Ibu Negara, Iriana, menjawab dengan jujur bahwa sebagai seorang pemimpin, dirinya ingin melihat secara langsung kondisi masyarakat dan infrastruktur di sana, tidak hanya dari berita media saja.

“Indonesia bagian timur terlalu lama dilupakan dan kurang diperhatikan. Satu setengah bulan setelah dilantik, saya langsung terbang ke Papua. Sampai saat ini sudah tujuh kali saya datang ke Papua dan merupakan provinsi paling sering yang saya kunjungi. Padahal Jakarta ke Papua butuh 6 jam. Tapi ini wilayah NKRI yang harus diperhatikan,” ujar Jokowi seperti dilansir setkab, Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Tampil Unik

Dalam setiap kesempatan mengunjungi Papua, selain disambut hangat dan antusias, Presiden Jokowi selalu menjadi pusat perhatian. Bukan karena statusnya sebagai seorang Presiden saja, tetapi juga soal selera berpakaiannya dan hobinya yang memiliki simbol unik. Tak terkecuali saat berkunjung ke Papua, Jokowi sempat terlihat memakai sepatu sport dengan brand ‘S’ ketika meninjau Jembatan Holtekamp.

Pada agenda selanjutnya, Jokowi nekat menembus hujan dengan mengendarai motor listrik saat berkunjung ke kota Agats, Kabupaten Asmat, Kamis (12/4/2018). Tampak santai, Ibu Negara Iriana juga terlihat dibonceng Jokowi dengan sepeda motor berwarna merah tersebut. Di Agats, masyarakat setempat memang terbiasa menggunakan motor listrik untuk mobilitas dan transportasi.

Beberapa kali kunjungan Jokowi ke Papua bukan soal pencitraan di mata masyarakat Papua yang lelah menanti banyak janji yang tak kunjung direalisasikan untuk kesejahteraan masyarakat. Di tengah kesenjangan antar wilayah di Indonesia, terutama di Papua, komitmen Jokowi untuk mengakselerasi pembangunan Papua patut diapresiasi. Karena Jokowi, Papua adalah kita, Papua adalah Indonesia.!

BERITA TERKAIT

TERKINI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here