Donor Darah Hingga Doa Bersama, Bentuk Dukungan Masyarakat Melawan Terorisme

Warga Surabaya mendatangi PMI Surabaya untuk mendonorkan darahnya guna membantu korban ledakan bom di tiga gereja, pada Minggu (13/5)/Foto: Facebook.com, E100

Jakarta, Reliji.Com– Serangan bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya pada Minggu (13/5) pagi, menuai kecaman dari banyak pihak karena aksi tersebut sangat keji dan tidak sesuai dengan ajaran agama apapun.

Tak berselang lama setelah serangan bom di tiga titik itu diberitakan oleh berbagai media massa, termasuk jumlah korban tewas dan terluka yang dari jam ke jam dilaporkan terus bertambah, warga Kota Surabaya ramai membuat tanda pagar (tagar) atau hastag di akun media sosialnya sebagai ungkapan simpati kepada para korban serta perlawanan kepada aksi terorisme.

Tagar seperti #SuraboyoWani, #Kamitidaktakut, #SurabayaMelawan, hingga #TerorisJancuk, banyak menghiasi layar media sosial seperti twitter, Instagram, hingga Facebook milik warga Surabaya.

Salah satu kicauan dari Aris Ernanto melalui akun twitternya @Arisern mengatakan, pengeboman di Surabaya dipastikan dilakukan oleh orang tidak beragama, karena orang yang beragama selalu menyebarkan kedamaian, dan turut berduka cita atas peristiwa. Kicauan itu diakhiri dengan #SuroboyoWani.

Warga Kota Surabaya tidak hanya menunjukkan solidaritas kepada para korban teror bom melalui kicauan di dunia maya. Ratusan arek-arek Kota Pahlawan ini juga membantu para korban dengan cara mendonorkan darahnya di UTD Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya Jalan Embong Ploso.

“Ayo warga Surabaya, bagi yang punya kepedulian dan mampu mendonorkan darahnya, kita berdonor di PMI untuk para korban ledakan bom gereja di Surabaya,” kata salah seorang warga, Teguh Prihandoko, usai mendonorkan darah di PMI Embong Ploso.

Teguh berharap, donor darah bisa membantu upaya menyelamatkan para korban ledakan bom. Sebab, para korban saat ini membutuhkan darah dan sedang dalam perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Surabaya.

“Darah saya dan darah Anda semua warga Surabaya dibutuhkan saat ini,” kata Teguh, yang juga Dirut Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya ini.

Imbauan sama juga disampaikan oleh para pengurus dan anggota Perhimpunan Driver Online Indonesia (PDOI) Jawa Timur. Humas PDOI Jatim Daniel Rorong mengatakan imbauan tersebut sebagai bentuk kepedulian dari PDOI untuk menyumbangkan darah guna membantu para korban teror bom.

“Setetes darah rekan-rekan driver online R2 dan R4 sangat membantu untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang membutuhkan donor darah,” katanya.

Kepala Bagian Pelayanan Donor UTD PMI Surabaya dr Martono Adi Triyuko memperkirakan jumlah pendonor pada hari Minggu ini mencapai 600 orang. Jumlah tersebut melebihi target dalam situasi normal.

“Biasanya, per hari target kami sekitar 400-an. Tapi hari ini membeludak setelah insiden [bom] itu,” katanya.

Martono mengatakan antusiasme warga ini sangat membantu para korban ledakan bom, khususnya yang kondisinya sangat membutuhkan darah. Ia mengapresiasi kepedulian masyarakat yang sangat tinggi untuk membantu para korban ledakan bom gereja di Surabaya.

Berdasarkan informasi terakhir dari Polda Jatim, serangan bom di tiga gereja Surabaya mengakibatkan 13 orang tewas dan lebih dari 40 orang lainnya terluka.

Warga dari berbagai elemen menyalakan lilin saat aksi seribu lilin di Lapangan Gasibu, Bandung, pada Minggu (13/5 malam. Aksi tersebut sebagai dukungan dan doa bagi korban bom di tiga gereja di Surabaya/ Foto: Antara

Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama

Ratusan warga Surabaya pada Minggu malam juga menggelar aksi lilin kebersamaan “Suroboyo Wani” di pelataran Tugu Pahlawan, Kota Surabaya.

“Jangan pernah tidur nyenyak wahai teroris, kita bakar hati kita, kita bakar semangat kita. Bantai teroris, tembak mati teroris. Mereka adalah sampah negeri ini,” kata kordinator aksi Kusnan saat orasi di Tugu Pahlawan.

Aksi tersebut diikuti sejumlah elemen masyarakat di Kota Surabaya seperti perwakilan GP Ansor Surabaya, komunitas lintas agama, suporter Persebaya bonekmania, dan komunitas lainnya.

Selain melakukan yel-yel, para peserta aksi menyalakan lilin secara bersamaan sebagai tanda duka cita atas meninggalkan warga Surabaya yang menjadi korban ledakan bom di tiga gereja.

Tiga gereja yang terkena ledakan bom yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jalan Ngagel, GKI Jalan Diponegoro dan GPPS Jalan Arjuna. Aksi teror peledakan bom tersebut menewaskan sekitar 13 orang dan 41 orang terluka.

Ketua GP Ansor Kota Surabaya M. Faridz Afif menyatakan prihatin atas tindakan keji yang dilakukan teroris dengan meledakkan bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi.

“Arek-arek Surabaya akan melawan kelompok teroris, jika hari ini mereka melakukan aksi, maka harus kita lawan. Ini adalah karakter Surabaya, kalau tidak berani jangan mengaku arek Surabaya,” katanya.

Aksi penyalaan lilin bersama sebagai bentuk keprihatinan terhadap aksi teror bom di Surabaya, juga berlangsung di Palangka Raya, Bandung, serta
beberapa kota lainnya.

Ratusan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Minggu malam berkumpul dan mengelilingi Bundaran Besar Kota Palangka Raya untuk melakukan doa bersama dan penyalaan lilin sebagai bentuk keprihatinan serta bela sungkawa atas terjadinya aksi terorisme di Kota Surabaya.

Acara itu antara lain dihadiri anggota DPR RI, DPRD Kalteng dan Kota Palangka Raya, Pejabat di lingkungan Pemprov dan Pemkot, Polda, Korem 102 Panju Panjung, tokoh lintas agama, tokoh Adat, organisasi keagamaan, kemasyarakatan, kepemudaan, kemahasiswaan, serta elemen lainnya.

Ratusan warga yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan peniupan sangkakala serta doa dari seluruh pemuka lintas agama. Ketua Eksternal Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng Lukas Tingkes mewakili yang hadir dalam aksi itu membacakan pernyataan sikap.

“Kita sakit hari ini. Kita menangis. Karena anak bangsa kita sendiri yang merusak bangsa sendiri, yang kita sebut teroris. Kalteng mengutuk terorisme. Jangan takut, masyarakat Kalteng bersama-sama pemerintah dan rakyat Indonesia menyatakan sikap menghancurkan terorisme,” kata Lukas Tingkes.

Dalam pernyataan sikap tersebut juga diingatkan agar seluruh masyarakat Kalteng tetap berpegang teguh terhadap Undang-undang Dasar (UUD) 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Warga Kota Bandung yang berasal dari berbagai elemen, pada Minggu malam juga berkumpul di Lapangan Gasibu, dalam aksi seribu lilin dan doa bersama bagi korban di serangan bom di tiga gereja di Surabaya. Aksi ini sekaligus merupakan dukungan warga dalam menentang aksi terorisme.


Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah Sholahudin Aly (kiri), rohaniawan Katolik Romo Aloys Budi Purnomo (kedua kiri), rohaniawan Romo Notowardoyo (ketiga kiri), bersama sejumlah anggota Banser berdoa bersama untuk korban peristiwa bom Surabaya, di Gereja Kristus Raja Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (13/5). Mereka juga mendoakan agar Indonesia dapat terbebas dari aksi terorisme dan menyuarakan persatuan serta kesatuan di antara masyarakat Indonesia/ Foto: Antara

Mengutuk

Serangan bom terhadap tiga gereja di Surabaya juga menuai kecaman dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh lintas agama, Ormas, hingga Presiden Jokowi.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jatim, KH Abdusshomad Buchori, mengatakan bahwa terorisme bukan ajaran Islam dan setiap muslim yang memahami ajaran Islam pasti mengutuk keras tindakan terorisme.

Tindakan terorisme berpotensi mencederai rasa persatuan dan kesatuan, serta menimbulkan kecemasan dan gangguan terhadap ketenteraman dan ketertiban masyarakat, lebih-lebih umat Islam sebentar lagi akan menjalankan ibadah Ramadhan,” kata Abdusshomad, dalam keterangan persnya, Minggu.

Menurutnya, MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang menyatakan terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang jelas-jelas diharamkan oleh agama, baik dilakukan oleh perorangan maupun kelompok, dengan tujuan apapun.

Kecaman terhadap aksi teror bom di Surabaya juga dilontarkan oleh Rektor ITS, Prof Joni Hermana, Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Surabaya Mahsun Jayadi, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya Achmad Muhibin, serta Ketua Umum Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti.

“Saya dan seluruh kader Pemuda Pancasila siap berada di garis terdepan melawan segala bentuk aksi teror yang menimbulkan korban warga tak bersalah serta mengganggu ketenteraman masyarakat Jawa Timur yang selama ini terjaga dengan baik,” kata La Nyalla, melalui keterangan persnya di kantor MPW PP Jatim, Surabaya, Minggu.

Diolah dari Antara dan berbagai sumber

BERITA TERKAIT

TERKINI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here