Reliji Intensifkan Kampanye Door to Door untuk Tangkal Hoaks

Ketua Umum Kornas Reliji Bursah Zarnubi, saat memberikan pengarahan pada acara Workshop dan Pelatihan Relawan Kampanye Door to Door wilayah Bogor Raya, di M One Hotel Bogor, Kamis (11/4) siang.

Bogor,Reliji.com – Di sisa waktu masa kampanye, Relawan Indonesia Jokowi (Reliji) mengintensifkan kampanye door to door untuk menangkal berita palsu (hoax) yang semakin meningkat penyebarannya belakangan ini dan diperkirakan tidak akan berhenti sampai hari-H pemilu pada 17 April 2019.

“Semakin dekat hari pencoblosan, hoaks yang menyerang pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin semakin gencar. Isunya beragam, mulai dari KH Ma’ruf Amin nanti akan digantikan Ahok, Jokowi antek PKI, isu kerusuhan, hingga rakyat akan semakin susah dan Indonesia akan hancur jika Jokowi kembali terpilih. Para relawan harus aktif mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk meluruskan propaganda sesat seperti itu,” kata Ketua Umum Kornas Reliji Bursah Zarnubi, saat memberikan pengarahan pada acara Workshop dan Pelatihan Relawan Kampanye Door to Door wilayah Bogor Raya, di M One Hotel Bogor, Kamis (11/4) siang.

Acara ini diikuti oleh 500 relawan dari Kabupaten dan Kota Bogor, dan dihadiri Sekretaris TKD Jokowi-Ma’ruf Amin Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.

Dalam menjalankan tugasnya para relawan dibekali alat peraga kampanye berupa brosur “Jokowi Presiden pro Rakyat” dan tabloid Tabayyun.

Pro Umat dan Mengayomi Semua Golongan

Bursah merasa risau dengan tren hoax yang semakin meningkat menjelang hari pencoblosan Pemilu. Mengutip data Kementerian Kominfo yang dirilis pada pekan lalu, ia mengungkapkan, pada Januari 2019 ada 175 isu hoaks, Februari 353 isu hoax, dan Maret meningkat jadi 453 isu. Isinya sebagian besar menyerang pasangan Capres nomor urut 01.

Terkait isu yang menyebut Jokowi anti Islam, Bursah memaparkan, Presiden Jokowi adalah muslim sejati yang taat beribadah, rajin puasa, sudah haji sejak tahun 2003, dan beberapa kali berangkat umroh bersama keluarga. Keluarganya juga sangat sederhana, harmonis, bisa disebut sebagai cerminan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Anak-anaknya jualan pisang goreng dan martabak, tidak ada yang neko-neko, dan tidak ada yang berbisnis memanfaatkan fasilitas negara.

“Sejak jadi Walikota Solo lalu Gubernur DKI hingga 4,5 tahun memimpin Indonesia, Presiden Jokowi sangat dekat dengan ulama dan umat Islam. Bukan cuma dekat, Presiden Jokowi juga banyak membuat program nyata untuk mendorong ekonomi umat seperti membentuk Bank Wakaf dan memfasilitasi kemitraan pengusaha besar dengan pesantren. Yang tidak kalah penting adalah pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia di lahan seluas 142 hektar di Depok, yang saat ini sedang berjalan, dan jika sudah selesai akan menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia,” kata Bursah.

Sedangkan soal isu yang mengaitkan Jokowi dengan PKI, menurut Bursah, itu tidak masuk akal karena Jokowi lahir tahun 1961 sehingga usianya baru 4 tahun saat terjadi Pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Mustahil anak umur 4 tahun terlibat PKI.

Menurut Bursah, Presiden Jokowi kini menjadi salah satu panutan pemimpin dunia karena dinilai berhasil memadukan demokrasi, Islam, dan moderasi. Jokowi punya komitmen teguh merawat kebhinekaan Indonesia dan mengayomi semua golongan. Politik dan keamanan Indonesia stabil meski negara ini terdiri dari 700 lebih suku, keyakinan agamanya tidak sama, dan tinggal di ribuan pulau.

“Terbukti hasil survei Gallups Law and Order 2018 menobatkan Indonesia sebagai negara teraman ke-9 di dunia. Stabilitas keamanan ini terwujud antara lain karena soliditas Polri-TNI terjaga dengan baik,” kata Bursah.

Pembangunan Berkeadilan

Bursah menyebut prestasi monumental Jokowi lainnya adalah dalam mewujudkan pembangunan yang merata dan berkeadilan. Itu dilakukan dengan mengubah orientasi pembangunan yang selama ini Jawa sentris menjadi Indonesia sentris, menggenjot pembangunan di wilayah pedesaan dan daerah pinggiran, serta mengakselerasi pembangunan infrastruktur di luar Jawa. Pembangunan di perdesaan semakin pesat melalui alokasi anggaran dana desa yang terus meningkat setiap tahun.

“Angka kemiskinan di era Jokowi terus turun hingga 9,6 persen pada Agustus 2018, atau angka kemiskinan terendah dalam sejarah Indonesia. Akses masyarakat kecil terhadap pendidikan dan kesehatan juga semakin baik melalui program wajib belajar 12 tahun, Kartu Indonesia Pintar, program jaminan kesehatan nasional, dan kartu indonesia sehat,” kata Bursah.

Dengan berbagai hasil kerja nyata tersebut, Bursah mengatakan, Presiden Jokowi layak untuk dipilih kembali.

BERITA TERKAIT

TERKINI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here